Hubungan Iklim dengan Lebah Madu
oleh : AHMAD SANUSI NST
Dalam kehidupan dan perkembangannya lebah sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Selain ketersediaan pakan lebah maka faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban udara, curah hujan dan ketinggian tempat juga sangat menentukan perkembangan lebah madu (Widhiono, 1986).
Jadi, sama halnya dengan makhluk hidup lain dalam kaitannya dengan iklim, lebah juga memiliki persyaratan iklim yang cukup untuk keberlangsungan produktifitasnya. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Jika iklim tidak sesuai maka produktifitas lebah madu juga kemungkinan besar akan tidak sesuai dengan yang diharapkan.Iklim yang dimaksud dalam hal ini meliputi cuaca dan faktor-faktor iklim itu sendiri.
Tahun 2007 banyak peternak lebah madu yang gulung tikar akibat cuaca yang tidak menentu. Sebagai contoh peternak lebah dengan perhitungan tahun sebelumnya biasanya panen madu kelengkeng sekitar bulan September. Dengan asumsi tersebut peternak lebah madu akan mengembala lebahnya ke daerah Ambarawa namun akibat cuaca yang tidak menentu ternyata pohon kelengkeng gagal berbunga.Peternak yang sudah terlanjur membawa koloni lebahnya ke tempat tersebut tentu akan rugi besar selain biaya tarnsportasi yang mahal juga banyak lebah yang mati kelaparan (www.binaapiari.com, 2008)
Jadi, untuk berhasil dalam bisnis budidaya lebah madu, faktor iklim merupakan salah satu bagian penting yang perlu dikaji terlebih dahulu.Berikut ini ada beberapa faktor iklim yang berhubungan dengan lebah madu baik secara langsung maupun tidak langsung :
a. Suhu
Lebah madu merupakan golongan serangga berdarah dingin, sehingga sangat dipengaruhi oleh perubahan suhu udara disekitarnya. Menurut Siregar (2009) Pada suhu dibawah 10 0C dapat mengakibatkan urat sayapnya menjadi lemah sehingga tidak mampu terbang.Pada suhu sekitar 10o C, lebah madu cenderung lebih banyak memperbaiki sarang sebagai upaya meningatkan temperatur agar mencapai kondisi kenyamanan yang ideal Suhu diatas 100C lebah mulai aktif dan kegiatannya akan meningkat dengan kenaikan suhu. Pada suhu 330C – 350C lebah ratu mulai aktif bertelur, sedang pada suhu diatas 350C kegiatan lebah dalam membuat lilin dan sarang akan lebih meningkat (Rismunandar, 1990).
Suhu ideal yang cocok bagi lebah adalah sekitar 26 derajat 0C, pada suhu ini lebah dapat beraktifitas normal. Suhu di atas 10 0C lebah masih beraktifitas. Di lereng pegunungan/dataran tinggi yang bersuhu normal (25 0C). Lokasi yang disukai lebah adalah tempat terbuka, jauh dari keramaian dan banyak terdapat bunga sebagai pakannya. (www.binaapiari.com, 2008).
Koloni lebah mempunyai cara-cara yang unik untuk mempertahankan temperatur didalam sarangnya. Kemampuan lebah untuk mempertahankan kehangatan kondisi mikroklimat merupakan adaptasi secara langsung untuk terbang. Adapun cara yang ditempuh adalah melalui pengendalian terintegrasi antara produksi dan pelepasan panas. Mekanisme ini dapat menyebabkan menurunnya aktivitas lebah dalam mencari makanan sehingga akan dapat mempengaruhi perkembangan koloni selanjutnya (Seeley, 1985).
b. Kelembaban
Salah satu hal utama yang perlu diperhatikan apabila kita beternak lebah dalam stup atau glodok adalah kelembaban. faktor kelembaban harus selalu diperhatikan karaena hal ini berhubungan dengan kandungan air dalam stup atau glodok.Lebah menghendaki tempat yang tidak terlalu lembab dan tidak terlalu kering, yang pasti lebah mampu menciptakan kondisi lembab disekitarnya apabila air di daerah tersebut tersedia dan cuaca mendukung. Kondisi yang terlalu lembab bisa mengakibatkan timbulnya bakteri maupun jamur disekitar sarang yang dapat berakibat terhadap pembusukan telur dan berkurangnya kesehatan lebah (Sutrisno, komunikasi pribadi, 2009)
c. Curah Hujan
Para peternak lebah dituntut untuk selalu jeli untuk mencari lokasi penggembalaan lebah. Pada musim bunga (kemarau), peternak harus mampu mencari lokasi penggembalaan yang bunganya melimpah, agar madu dan royal jellynya melimpah pula. Pada musim-musim paceklik (penghujan), peternak dituntut untuk mampu menempatkan lebah di lokasi yang memiliki curah hujan kecil dan paling banyak sumber nektarnya, terutama sumber tepung sari bunga.
Suhu udara yang terlalu panas atau terlalu dingin tidak cocok untuk kehidupan lebah madu, demikian pula lokasi yang memiliki curah hujan terlalu tinggi tidak cocok untuk budidaya lebah madu, karena lebah-lebah pekerja tidak bisa mencari makanan. Namun, jika hujan turun pada siang hari, lebah masih mempunyai kesempatan mencari makanan pada pagi hari (Halim dan Suharno, 2008)
d. Ketinggian Tempat
Indonesia termasuk wilayah yang memiliki udara sub tropis, sangat ideal untuk mengembang biakkan dan membudidayakan lebah, karena rata-rata suhu udara nya 26 – 35oC. Sedangkan untuk dataran yang ketinggiannya di atas 1.000 meter dari permukaan laut kurang cocok untuk pembudidayaan lebah, karena suhu udaranya dibawah 15oC. Kondisi ini akan menyebabkan lebah malas keluar sarang dan memilih bermain-main di dalam sarang, yang akan mengakibatkan kekurangan bahan makanan karena lebah pekerja (betina) enggan mencari nektar dan tepung sari. Dataran yang cocok untuk beternak lebah madu ini adalah dil lereng pegunungan atau dataran tinggi yang bersuhu normal (di atas 25oC) (Bank, Indonesia).
Tidak semua jenis lebah bisa hidup pada berbagai ketinggian, hal ini erat kaitannya dengan suhu dan sumber pakannya. Ada jenis lebah yang bisa hidup sampai ketinggian 1200 mdpl dan ada yang bisa hidup pada berbagai ketinggian tertentu. Seperti Apis laboriosa Jenis lebah ini hanya terdapat di pegunungan Himalaya pada ketinggian tempat lebih dari 1.200 m dari permukaan laut (dpl), jenis Apis andrenoformis hanya bisaditemukan sampai pada ketingian 500 mdpl.
e. Penyinaran Matahari
Penyinaran matahari berpengaruh terhadap aktivitas lebah.Umumnya lebah pekerja mulai giat dari jam 05.00 WIB sampai jam 18.00 WIB. Puncak kegiatannya 1ebih ,banyak terjadi pada pagi hari antara jam 05.00-08.00 WIB. Bervariasinya faktor lingkungan fisis dan perubahan waktu menyebabkan pola kegiatan hariam keluar-masuk sarang lebah pekerja juga bervariasi. (Syamsudin,2008)
Faktor fisis yang relatif berpengaruh dalam menentukan kegiatan keluar-masuk sarang adalah intensitas cahaya matahari, suhu dan kecepatan angin walaupun demikian pola kegiatan harian memperlihatkan pola yang ritmis. Pada kegiatan harian mengumpulkan tepung sari memperlihatkan pola yang ritmis dengan dua periode puncak kegiatan pada pagi hari dan sore hari. Kegiatan harian rata-rata mengambil tepung sari terhenti pada jam 12.00-15.00 WIB. Faktor lingkungan fisis yang relatif paling berpengaruh dalam menentukan kegiatan pekerja untuk mengumpulkan tepung sari adalah intensitas cahaya. (Syamsuddin, 2008)
Add comment Desember 1, 2009
PENGENDALIAN INTERN DAN SISTEM AKUNTANSI
Oleh:
Ahmad Sanusi Nst
E-mail/Facebook: sanusi_eneste@yahoo.com
Semakin tinggi suatu pohon, akan semakin kencang angin yang bertiup,potensi untuk tumbang,roboh, ataupun patah akan semakin besar pula. Demikian juga halnya dengan dunia usaha, semakin besar suatu badan usaha ataupun entitas maka potensi gangguan yang merongrong perusahaan akan semakin besar. Oleh sebab itu, untuk memperkecil potensi kerugian akibat gangguan tersebut diperlukan sistem pengendalian intern yang baik, semakin besar suatu entitas maka pengendalian intern harus lebih efetif dan efisien.
Pengendalian intern (internal control) memiliki pengertian secara sempit dan luas, dalam pengertian sempit merupakan internal check, yaitu melakukan pengujian atas kebenaran perkalian,penjumlahan, dan pengurangan angka-angka yang tertera dalam formulir, serta penelitian cara penjurnalan (pencatatan). Dalam pengertian luas, pengendalian intern tidak sekedar menguji kebenaran angka-angka dan pencatatan, tetapi mencakup mekanisme dari seluruh perangkat yang digunakan manajemen dalam melaksanakan fungsi pengawasan.
American In stitute of Certified Public Accountant (AICPA) mendefenisikan sebagai berikut:
Pengendalian intern meliputi struktur organisasi, semua cara dan alat-alat yang dikoordinasikn dan dipergunakan dalam perusahaan dengan tujuan untuk menjaga keamanan harta milik perusahaan, memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi,meningkatkan efisiensi usaha dan menjaga agar kebijakan yang ditetapkan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Berdasarkan tujuannya, pengendalian intern mencakup pengendaian akuntansi (Accounting Control) dan pengendalian administrasi (administrative control).
Pengendalian akuntansi terdiri dari struktur organisasi dan metode-metode atau prosedur yang berubungan langsung dengan pengamanan aktiva dan ketelitian pencatatan transaksi keuangan. Pengendalian akuntansi biasanya mencakup otorisasi, dengan melakukan pemisahan fungsi dalam organisasi secara tegas, atas fungsi pelaksana operasional, penyimpanan, dan penyelenggara catatan. Jadi, tidak akan ditemui seorang pelaksana yang melakukan kegiatan dari awal sampai akhir transaksi tertentu.
Pengendalian administrasi berkaitan dengan efisiensi operasi dan kepatuhan pada kebijakan manajemen dan basanya tidak secara langsung berhubungan dengan pencatatan finansial.
Jadi sistem akuntansi merupakan bagian dari sistem pengendalian intern, terutama perannya dalam pengandalian akuntansi. Oleh karena itu, sistem akunansi yang disusn harus menyerap prinsip-prinsip pengendalian intern.
1 comment Oktober 19, 2009
BANK BENIH (Suatu Kajian dalam Bidang Kehutanan)
Oleh : Ahmad Sanusi Nst
Dalam istilah sehari-hari kita mengenal bank sebagai tempat untuk menyimpan uang,dan benih merupakan biji yang sudah terseleksi. Bank benih yang dimaksud dalam tulisan ini adalah tempat untuk menyimpan semua benih berbagai jenis tumbuhan agar dapat dipergunakan pada masa yang akan datang, sebagai sumber genetika untuk kepentingan konservasi dan pemuliaan. Keberadaan bank benih sangatlah penting mengingat Indonesia dengan bermacam ragam jenis pohon hutan memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan dan pelestarian plasma nutfah tumbuhan di dunia.
Bank benih terdiri dari bank benih di hutan (lapangan) yang tersimpan di dalam atau di atas permukaan tanah dan bank benih di tempat penyimpanan yang sudah melalui perlakuan pendahuluan, agar kualitas fisik,fisiologis dan genetisnya tetap baik.
1. Tipe Benih
Menurut Sutarno dkk (1997) secara teknologi dikenal benih yang bersifat ortodoks dan rekalsitran..
Benih ortodoks tidak mati walaupun dikeringkan sampai kadar air yang relatife sangat rendah dengan cara pengeringan cepat dan juga tidak mati kalau benih itu disimpan dalam keadaan suhu yang relative rendah.contoh benih yang bersifat ortodoks antara lain adalah benih Acacia mangium Wild (Akasia),Dalbergia latifolia Roxb (sonobrit),Eucalyptus urophylla S.T (ampupu),Eucalyptus deglupta Blume (leda), Gmelina arborea Linn (gmelina), Paraserianthes falcataria Folsberg (sengon),Pinus mercusii Jung et de Vriese (tusam), dan Santalum album (cendana)
Benih yang bersifat rekalsitran, akan mati kalau kadar airnya diturunkan sebelum mencapai kering dan tidak tahan di tempat yang bersuhu rendah.contoh benih ini adalah Agathis lorantifolia Salisb (dammar),Diosypros celebica Back (eboni) ,Hevea brasiliensis Aublet (Kayu karet),Macadamia hildenbrandii Steen (makadame),Shore compressa, Shorea seminis V.SI.
2. Keadaan Dorman (dormansi)
Benih viable tidak bisa berkecambah walaupun ditempatkan pada kondisi lingkungan yang menguntungkan disebut dengan dormansi. Adapun penyebabnya antara lain adalah :
1. kulit benih tidak tembus air
2. kulit terlalu keras, sehingga secara mekanis sulit ditembus oleh embrio.
3. benih yang impermeable terhadap gas oksigen.
4. embrio belum terbentuk sempurna pada saat benih telah masak, dan
5. ketidaksiapan benih secara kimiawi untuk memulai perkecambahan.
Beberapa teknik yang dipakai untuk memecahkan dormansi ini antara lain adalah mengikir,menggosok, melubangi,secara kimiawi yaitu dengan merendam benih dalam larutan asam sulfat, asam nitrat (pekat),asam hidroklorid, zat pengatur tumbuh (sitokinin, auksin dan giberelin);dengan perendaman air panas atau perlakukan suhu tertentu serta cahaya. Contoh benih dorman adalah merbau (Instia palembanica)yang benihnya diliputi oleh kulit keras dan tebal dan tidak dapat menyerap air, benih merbau yang matang mempunyai kelembaban nisbi kurang dari 10%, benih tersebut dapat bertahan 3 tahun tanpa diperlakukan, dan dapat berkecambah setelah dua tahun.
Perlu diketahui benih non dorman juga tidak selalu menguntungkan, karena benih tersebut cepat mati, sehingga menyulitkan apabila dipindahkan/ dibawa ke tempat lain yang relative memerlukan waktu yang agak panjang. Contoh benih yang non dorman adalah Hopea odorata (merawan),Pericopsis spp (kayu kuku).
PUSTAKA ACUAN
Sutarno dkk,1997. PENGENALAN PEMBERDAYAAN POHON HUTAN,Prosea Indonesia-Prosea Network Office,Pusat Diklat Pegawai & SDM Kehutanan, Bogor 1997
2 comments Agustus 19, 2009
MANAJEMEN PEMBUNGAAN DAN PENYERBUKAN TANAMAN
oleh: Ahmad Sanusi Nst
E-mail: sanusi_eneste@yahoo.com
Pembungaan dan penyerbukan merupakan salah satu faktor penting dalam produktifitas tanaman, namun cukup disayangkan di negara yang kaya akan tumbuhan berbunga ini bidang yang mendalami hal ini masih sedikit sekali. Hal ini terbukti dari sedikitnya tulisan yang menguraikan secara detail mengenai pembungaan dan teknologi penyerbukan tanaman indonesia.
Pembungaan dan penyerbukan sebagai bagian yang cukup berperan dalam fruitset tanaman, oleh karena hal tersebut pembungaan perlu mendapatkan perhatian serius dari kita semua, jika kita ingin meningkatkan produktvitas suatu tanaman, dalam hal ini menurut saya perlunya MANAJEMEN PEMBUNGAAN dan PENYERBUKAN
Manajemen Pembungaan dan Penyerbukan pada dasarnya merupakan suatu upaya untuk menciptakan kondisi lingkungan yang mendukung selama pembungaan dan penyerbukan sehingga didapatkan hasil tanaman yang optimal.
Di daerah sub tropis sering terjadi masalah frost atau suhu rendah dibawah nol untuk itu,diupayakan tanaman dapat lolos dari bahaya tersebut dengan cara pemilihan jenis yang resisten terhadap kebekuan. Pada saat pembungaan ,beberapa tanaman seperti custard apple memerlukan kelembaban tinggi sehingga penyerbukan dan fruit set dapat maksimal. untuk mengatasi hal ini dikebun pisang dipasang semburan uap panas (overheat misting) (Ashari,1998). selain hal tersebut masih banyalk lagi hal-hal yang bisa dilakukan untuk optimalisasi lingkungan berupa modifikasi iklim mikro selama pembungaan.
1. Manajemen Serangga penyerbuk
Pada dasarnya menajemen serangga penyerbuk bertujuan untuk memastikan serangga penyerbuk dalam kebun pada saat berlangsung pembungaan dan menyediakan bahan pakan untuk serangga penyerbuk sehingga serangga tersebut dapat menjalankan tugasnya secara maksimal.
Hingga saat ini Lebah madu merupakan jenis serangga penyerbuk yang paling banyak digunakan untuk peyerbukan. Karena, serangga ini mempunyai banyak kelebihan dibandingkan serangga lainnya,diantaranya adalah: Lebah Madu tidak bersifat hama dan tidak menimbulkan penyakit bagi tanaman, lebah madu bisa digembalakan,sehingga dapat digunakan pada sebarang lokasi sesuai keperluan,lebah madu umummya bekerja pada semua jenis tanaman tahunan dan lebah madu juga merupakan serangga buffer terhadap serangga lainnya ketika terjadi kondisi lingkungan stress.
2. Penyerbukan Bantu
Peyerbukan bantu sering juga disebut dengan penyerbukan suplemen, penyerbukan ini bertujuan untuk meningkatkan hasil tanaman beberapa komoditas tanaman buah-buahan,menurut Ashari (1998) cara yang sederhana inibisa dilakukan dengan menghadirkan tandan bunga dalam kwas kedalam kanopi tanaman pada saat pembungaan berlangsung.cara ini sering diterapkan pada tanaman apel dan kurma.
Cara yang paling baru digunakan adalah dengan menyambung tanaman polinator dalam kanopi tanaman,yang berarti pada satu tanaman paling sedikit terdiri dari dua jenis kultivar.
Daftar Pustaka
Ashari,S. 1998, Pengantar Biologi Reproduksi Tanaman,Rineka Cipta, Jakarta
2 comments Juli 10, 2009
KEBIJAKAN PEMBERIAN KREDIT
Oleh : Ahmad Sanusi
E-mail: sanusi_eneste@yahoo.com
Piutang timbul dari penjualan barang atau jasa secara kredit.Dalam sebuah entitas perusahaan,tidak tertagihnya piutang merupakan salah satu faktor penyebab kerugian perusahaan,jadi Untuk menghindari kerugian yang diakibatkan karena tidak tertagihnya piutang, maka perlu kiranya pimpinan perusahaan membuat kebijakan dalam pemberian kredit kepada langganan. Kebijaksanaan penjualan kredit biasanya mempertimbangkan hal-hal berikut ini :
a. Standar pemilihan pelangganan Dalam memutuskan untuk menyetujui permintaan atau penambahan kredit para langganan, perusahaan perlu mempertimbangkan kemauan dari kemampuan para pelanggannya untuk membayar. Oleh karena itu, perusahaan harus merencanakan pemilihan pelanggan. Untuk menilai resiko kredit seorang pelanggan, maka perusahaan dapat melakukan penilaian 5 C dari calon pelanggannya, yaitu :
1. Karakter, adalah adanya suatu sifat yang menunjukkan bahwa debitur akan secara jujur melaksanakan kewajibannya. Kewajiban ini berupa pembayaran kembali atas utangnya, sesuai dengan perjanjian atau transaksi yang telah dilakukannya.
2.Kemampuan, merupakan penilaian subjektif atas kemampuan membayar dari prestasi bisnin langganan tersebut di masa lalu yang didukung oleh hasil penelitian langsung pada pabarik atau took disamping melihat metode usaha yang digunakan.
3.Modal, diukur dari posisi keuangan perusahaan sebagaimana dapat dilihat dari analisis rasio keuangan, dengan penekanan khusus pada nilai modal perusahaan yang berwujud.
4.Jaminan, dicerminkan oleh aktiva dari langganan yang diikatkan atau dijadikan jaminan bagi keamanan kredit yang diberikan kepada langganan. Secara umum jaminan terhadap piutang dapat terbagi duat yaitu jaminan fisik dan non fisik. Jaminan fisik berarti jaminan berbentuk barang seperti tanah, rumah, surat-surat berharga dan sebagainya. Jaminan non fisik berbentuk jaminan keyakinan tentang prospek dan kekuatan keuangan serta sifat yang dapat dipertanggungjawabkan. Jaminan non fisik dapat berupa jaminan orang.
5. Kondisi perekonomian, menunjukkan pengaruh dari trend ekonomi pada umumnya terhadap perusahaan yang bersangkutan atau perkembangan khusus dalam suatu bidang ekonomi tertentu yang mungkin mempunyai efek terhadap kemampuan langganan untuk memenuhi kewajibannya. Informasi tentang faktor-faktor tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber lainnya :
1. Para memasok (supplier) lain yang memberikan kredit kepada pelanggan tersebut dan bersedia untuk bertukar informasi.
2. Bank-bank komersial dimana para pelanggan berhubungan. Walaupun bank tidak dapat memberikan data tentang jumlah simpanan dan pinjaman para nasabahnya, akan tetapi informasi umum dapat diperoleh, misalnya rekening korang pelanggan.
3. Pengalaman perusahaan sendiri mengenai kebiasaan pembayaran pelanggan, yang dapat dilihat dari catatan pembayaran pelanggan tersebut.
4. Lingkungan pengusaha yang mengenal perusahaan pelanggan itu.
5. Sumber informasi yang lain adalah biro pelaporan kredit. Disamping penilaian lima-C, dalam memilih pelanggan dapat diterapkan analisis diskriminan.
Dalam analisis ini pertama-tama ditentukan faktor-faktor penting yang dapat membedakan baik buruknya seorang pelanggan. Faktor-faktor tersebut dapat berupa : current ratio, quick ratio, debt to assets, inventory turnover, profit margin, dan rasio lainnya. Dari faktor-faktor tersebut dipilih beberapa faktor utama yang dipakai sebagai variabel.
a) Batas kredit yang diberikan. Pemberian kredit harus dibatasi sampai batas kemampuan membayar para pelanggan. Untuk menentukan batas kredit dapat digunakan rasio probabilitas kerugian atas penjualan kredit kepada pelanggan.
b) Syarat-syarat Penjualan Kredit. Syarat-syarat kredit terdiri dari : periode kredit, periode potongan tunai dan tarif potongan tunai. Periode kredit adalah periode waktu antara tanggal terjadi penjualan kredit dan tanggal pelunasan kredit. Periode potongan tunai adalah periode waktu antara terjadinya penjualan kredit dan tanggal hilannya kesempatan potongan tunai, Tarif potongan merupakan potongan atas harga pembelian yang akan diperoleh pembeli jika pelunasan dilakukan dalam periode potongan tunai.
c) Kebijaksanaan Penagihan. Proses penagihan memang mahal, baik dari sudut biaya uang yang nyata maupun hilangnya hubungan baik. Tetapi tetap diperlukan adanya ketegasan penagihan dan memperkecil kerugian langsung yang timbul karena tidak tertagihnya piutang.
Kebijaksanaan penagihan berhubungan dengan prosedur penagihan terhadap piutang yang telah jatuh tempo atau melewati periode kredit. Untuk menggambarkan pengaruh dari usaha penagihan, kebijaksanaan penagihan dapat dibagi atas aktif dan pasif. Kebijaksanaan penagihan disebut aktif jika suatu prosedur penagihan diikuti dengan tegas.
Kebijaksanaan penagihan yang aktif mempunyai pengaruh yang positif dan negatif. Pengaruh dari kebijaksanaan yang aktif adalah penurunan piutang tak tertagih. Kemudian, periode penagihan rata-rata juga dapat diturunkan. Disamping pengaruh positif, kebijaksanaan yang aktif juga mempunyai pengaruh yang negatif yaitu naiknya biaya penagihan. Pengaruh yang lain adalah penurunan dalam volume penjualan. Hal ini disebabkan sebagian langganan tidak suka ditekan dalam hal penagihan, dan juga dapat berpindah ke perusahaan lain. Akibat dari kebijaksanaan penagihan yang positif adalah sebaliknya.
Perusahaan harus mempunyai prosedur dalam penagihan piutang yang telah jatuh tempo. Banyak prosedur penagihan yang dapat dipergunakan. Usaha penagihan pertama harus dilakukan dengan sopan, dan jika kemudian piutang masih tidak tertagih usaha yang tegas dapat diterapkan.
Usaha penagihan dapat berupa : penagihan melalui surat, telepon, mendatangi langsung, penagihan melalui upaya hukum, atau menggunakan tukang tagih professional. Kebijaksanaan penagihan dapat diterapkan sebagai berikut : misalnya setelah 20 hari piutang yang jatuh tempo tidak dilunasi, maka perusahaan menulis surat atau menghubungi dengan telepon. Jika setelah 60 hari piutang juga belum dilunasi, perusahaan dapat mengutus pegawai penagih atau salesman mengunjungi pelanggann yang menunda pelunasan. Jika sesudah 90 hari belum juga ada pembayaran, maka penyelesaiannya dilakukan melalui jalur hukum. Apabila pelanggan tidak mampu lagi untuk membayar, maka usaha penagihan dihentikan dan diadakan penghapusan piutang tak tertagih. Metode yang digunakan adalah metode penyisihan piutang ragu-ragu agar informasi pada neraca lebih lazim dan tidak menyesatkan.
2 comments Juli 3, 2009
SISTEM SILVIKULTUR HUTAN RAWA GAMBUT
Oleh: Ahmad Sanusi
E-mail : sanusi_eneste@yahoo.com
Rawa adalah kawasan sepanjang pantai, aliran sungai, danau atau letak yang menjorok masuk (intake) ke pedalaman sampai sekitar 100 km atau sejauh dirasakannya pengaruh gerakan pasang. Dalam pengertian yang lebih luas, rawa digolongkan sebagai lahan basah (wet lands) atau lahan bawahan (low lands), Lahan gambut merupakan salah satu contoh lahan rawa (Noor, 2004). Gambut merupakan tanah yang terbentuk dari bahan organik pada fisiografi cekungan atau rawa, akumulasi bahan organik pada kondisi jenuh air, anaerob, menyebabkan proses perombakan bahan organik berjalan sangat lambat, sehingga terjadi akumulasi bahan organik yang membentuk tanah gambut (Sagiman, 2007)
Lahan rawa gambut dinilai tidak saja “Marginal” tetapi juga “fragile”, tingkat kesuburan tanah gambut ditentukan oleh sifat fisik, tingkat kematangan dan susunan haranya, sifat kimia tanah gambut sangat beragam, umumnya kandungan N, bahan organik, dan C/N ratio adalah tinggi. Kemasaman merupakan salah satu kendala paling inherence dalam usaha perbaikan beberapa lahan ini.
Kerusakan hutan rawa gambut saat ini disebabkan oleh:
1. Tidak memperhatikan karakteristik Ekosistem
2. Over Eksploitasi
3. Pembakaran
4. Konversi
Untuk memperbaiki kerusakan tersebut perlu dilakukan tindakan secara silvikultur yang baik.
Sistem Silvikultur
1. Pemilihan Jenis Tanaman
Pemilihan jenis tanaman merupakan hal yang sangat penting diperhatikan dalam pengelolaan hutan rawa gambut, karena pertumbuhan jenis tanaman sanagt tergantung dengan kondisi tapaknya, jika tanaman sesuai dengan kondisi tapak dan iklim mendukung maka upaya pengelolaan lebih efisien dan efektif, menurut Istomo (2004) Beberapa jenis tanaman khas rawa gambut adalah:
• Tumih (Combretocarpus ratundus)
• Mahang (Macaranga spp.)
• Pulai (Alstonia pneumatophora)
• Milas (Parastemon urophyllum)
• Balam-suntai (Palaquium spp.)
• Terentang (Camnosperma coreaceum)
• Geronggang (Cratoxylon arborencens)
• Simpur (Dillenia excelsa)
• Jelutung (Dyera lowii)
• Gelam (Melaleuca cajuputi)
• Ramin (Gonystylus bancanus)
• Meranti batu (Shorea uliginosa)
Jika kita lihat dari segi tujuan perlindungan, pola pembuatan tanaman secara campur (mix-forest) akan lebih menguntungkan, dengan penanaman hutan secara campur tersebut, akmulasi serasah sebagai salah satu penunjang kebakaran hutan dapat diperkecil dengan catatan seperti curah hujan, suhu dan organisme renik cukup mendukungnya (Sumardi dan Widyastuti, 2002).
2. Pengelolaan Air
Hutan Rawa gambut dipengaruhi oleh pasang surut air, sehingga kondisinya relatif tergenang, untuk budidaya jenis beberapa jenis tanaman hal ini juga berpengaruh terhadap pertumbuhannya dan perlindungannya dari kebakaran. Oleh sebab itu pembuatan parit-parit kecil di hutan rawa gambut merupakan salah satu teknik yang sering digunakan dalam draenase daerah rawa gambut.Gambut cukup rentan terhadap bahaya kebakaran oleh sebab itu pada musim kemarau, parit-parit dibendung agar kondisi draenase tetap terpelihara dengan baik.
3. Perbaikan Sifat Kimia, Fisika, dan Biologi tanah Gambut.
Proses pembentukan gambut terjadi baik pada daerah pantai maupun di daerah pedalaman dengan fisiografi yang memungkinkan terbentuknya gambut, oleh sebab itu kesuburan gambut sangat bervariasi, gambut pantai yang tipis umumnya cukup subur, sedang gambut pedalaman seperti di Bereng Bengkel Kalimantan Tengah kurang subur (Sagiman,2007)
Secara teoritis permasalahan pengelolaan lahan gambut sesungguhnya disebabkan oleh drainase yang jelek, kemasaman gambut tinggi, tingkat kesuburan dan kerapatan lindak gambut yang rendah. Kemasaman gambut yang tinggi dan ketersediaan hara serta kejenuhan basa (KB)yang rendah menyebabkan pertumbuhan tanaman di lahan gambut sangat rendah.Tanaman tumbuh normal pada pH 5,5 untuk tanah gambut, untuk mengurangi kemasaman tanah gambut dapat dilakukan dengan pengapuran dan untuk gambut yang miskin hara dapat dilakukan dengan pemupukan.
Menurut Hardjowigeno (1996) sifat-sifat fisik tanah gambut yang penting adalah: tingkat dekomposisi tanah gambut; kerapatan lindak, irreversible dan subsiden. Noor (2001) menambahkan bahwa ketebalan gambut, lapisan bawah, dan kadar lengas gambut
merupakan sifat-sifat fisik yang perlu mendapat perhatian dalam pemanfaatan gambut.
Berdasarkan atas tingkat pelapukan (dekomposisi) tanah gambut dibedakan menjadi: (1)
gambut kasar (Fibrist ) yaitu gambut yang memiliki lebih dari 2/3 bahan organk kasar;
(2) gambut sedang (Hemist) memiliki 1/3-2/3 bahan organik kasar; dan (3) gambut halus
(Saprist) jika bahan organik kasar kurang dari 1/3. Gambut kasar mempunyai porositas
yang tinggi, daya memegang air tinggi, namun unsur hara masih dalam bentuk organik
dan sulit tersedia bagi tanaman, draenase merupakan salah satu tindakan dalam pengelolaan sifat fisik
Untuk perbaikan sifat biologi tanah yang lebih baik, saat ini dilakukan dengan inokulasi mikroba pelapuk yang dapat merombak bahan organik dengan cepat, seperti jenis penicilium,micoriza dan rhizhobium dan Pseudomonas. Bakteri-bakteri tersebut juga dapat menambat unsur-unsur sehingga dapat memperbaiki kondisi kimia tanah.
DAFTAR PUSTAKA
Harjowigeno,S. 1996. Pengembangan lahan gambut untuk pertanian suatu peluang dan
tantangan. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Tanah Fakultas Pertanian IPB.22 Juni 1996
Noor,M. 2004, Lahan Rawa,Sifat dan Pengelolaan Tanah Bermasalah Masam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Sagiman, S. 2007, Pemanfaatan Lahan Gambut dalam Perspektif Pertanian Berkelanjutan, Fakultas Pertanian, Universitas Tanjung Pura, Pontianak.
Sumardi dan Widyastuti,SM. 2002. Perlindungan Hutan, UGM Press. Yogyakarta
***** Catatan :Untuk IUPHHK dan HTI di rawa Gambut sistem silvikultur mengacu kepada “ Sistem Silvikultur Hutan Rawa Gambut yaitu sistem tebang pilih ((Keputusan Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan No. 24/Kpts/IV-set/96 untuk hutan rawa gambut )
Add comment Juni 19, 2009
BIOLOGI LEBAH MADU
Oleh: Ahmad Sanusi Nasution
Jenis-Jenis Lebah
Lebah termasuk dalam kelas insekta dan tergolong dalam jenis serangga yang berdarah dingin yakni hewan yang suhu tubuhnya dipengaruhi oleh perubahan suhu hawa yang ada disekitarnya. Menurut Sumoprastowo dan Suprapto (1993) lebah madu termasuk dalam famili Apidae. Terdapat di Eropa, Afrika, dan Asia. Pada Apidaae, madu dan tepung sari disimpan dalam sisiran yang vertikal, dan tempayak dibesarkan dalam sisiran yang sama.
Menurut Hasanuddin (2003), klasifikasi lebah madu adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Hymenoptera
Family : Apidae
Genus : Apis
Species : Apis Andreniformis
Apis cerana
Apis nigrocineta
Apis dorsata
Apis florea
Apis koschevnikovi
Apis laboriosa
Apis mellifera
Menurut Sihombing (1997) A.andreniformis, A.cerana, dan A.dorsata adalah lebah alam Indonesia, A.florea di Yunan, Cina, A.koschevnikovi di Serawak (Kalimantan), A.laboriosa di Himalaya dan A.mellifera berasal dari kawasan laut tengah.
Lebah madu adalah serangga sosial yang hidup bergerombol membentuk koloni.Dari 20.000 spesies lebah yang dikenali hanya lebah madu yang menghasilkan madu (Rusfidra,2006). Menurut Sarwono (2001) famili Apidae merupakan jenis lebah penghasil madu sejati. Yang paling penting sebagai penghasil madu dan lilin adalah lebah madu dari genus Apis. Lebah madu adalah serangga sosial yang hidup bergerombol membentuk koloni.Dari 20.000 spesies lebah yang dikenali hanya lebah madu yang menghasilkan madu (Rusfidra,2006). Menurut Sarwono (2001) famili Apidae merupakan jenis lebah penghasil madu sejati. Yang paling penting sebagai penghasil madu dan lilin adalah lebah madu dari genus Apis.
Morfologi dan Anatomi Lebah Madu
a. Morfologi (Struktur Eksternal)
Tubuh lebah madu terdiri dari tiga bagian utama, yaitu kepala (caput), dada (thorax) dan perut (abdomen). Seperti halnya insekta lebah tidak mempunyai kerangka internal tempat otot bertaut, tetapi sebagai penggantinya adalah penutup tubuh eksternal yang mengandung Chitin dan menutupi organ dalam.
b. Anatomi (Struktur Internal)
Anatomi lebah madu dalam hal ini meliputi sistem pencernaan, sistem penginderaan, dan sistem reproduksi. Sistem pencernaan pada lebah madu berturut-turut adalah: mulut, osefagus, kantong madu, proventriculus, ventriculus, usus halus, usus besar, colon dan rectum. Sistem penginderaan pada lebah madu meliputi indera penglihat, indera pencium, dan indera peraba. Dalam hal sistem reproduksi, organ reproduksi yang berkembang sempurna pada lebah hanya pada lebah jantan dan ratu. Seekor lebah ratu dewasa yang produktif dapat menelurkan 1000-2000 sel telur per hari.
Habitat Lebah Madu
Salah satu syarat hidup lebah adalah adanya tanaman. Secara umum lebah bisa hidup di seluruh belahan bumi, kecuali di daerah kutub. Hal ini disebabkan di daerah kutub tidak ada tanaman yang menjadi sumber pakan lebah. Di daerah tropis lebah dapat berkembang biak dengan baik dan produktif sepanjang tahun karena tumbuhan sebagai sumber pakan tersedia terus. Di daerah sub tropis lebah tidak produktif pada musim dingin (Suranto,2004).
Di alam bebas lebah tinggal di gua-gua dalam hutan termasuk di tebing-tebingnya. Di hutan, koloni lebah juga tinggal di pohon-pohon yang berlubang. Sementara di daerah peternakan lebah tinggal didalam tempat yang sudah disediakan namanya stup.
Koloni Lebah Madu
Lebah madu hidup dalam suatu keluarga besar yang disebut koloni, yang berdiam dalam satu sarang lebah (Rusfidra, 2006). Sampai saat ini jenis koloni yang umum dibudidayakan adalah jenis apis cerana dan apis mellifera. (Hasanuddin,2003).Di dalam koloni terdapat seekor lebah ratu, beberapa ratus lebah jantan dan puluhan ribu lebah pekerja.Menurut Ashari (1998) jumlah ini tergantung pada efektivitas penyerbukan dan kondisi makanan (bunga) setempat. Masing-masing anggota koloni memiliki pekerjaan yang dilakukan secara fungsional dan profesional.
Sel sarang atau sisir, semacam malam merupakan tempat lebah tersebut berkelompok. Sel sarang atau sisir tersebut digunakan sebagai tempat penyimpanan makanan dan tempat telur/ pemeliharaan keturunannya.Jumlah makanan yang tersimpan dalam sarang tergantung pada kondisi flora, cuaca, jumlah lebah perkoloni, dan jenis lebah.
Lebah Ratu
Lebah ratu merupakan pemimpin koloni dan bertanggung jawab terhadap keutuhan dan kekompakkan koloni. Ratu ini berjenis kelamin betina dan hanya terdapat satu ekor dalam tiap koloni,Tugas utamanya adalah menghasilkan telur untuk perkembangan koloni. Ukuran ratu paling besar, panjang badannya hampir dua kali dan beratnya hampir tiga kali lebah pekerja. Umur ratu bisa mencapai enam tahun (Suranto,2004).
Lebah Jantan
Lebah jantan berasal dari telur yang tidak dibuahi. Lebah ini berfungsi sebagai lebah pemacek, yakni mengawini ratu muda. Jika beruntung, seekor lebah jantan hanya dapat kawin sekali selama hidupnya, karena setelah berhasil mengawini ratu, lebah ini akan mati. Karena sifatnya yang pemalas, pada saat krisis makanan, banyak lebah jantan dibunuh oleh lebah pekerja (Rusfidra,2003).
Lebah Pekerja
Lebah pekerja adalah kelompok yang jumlahnya paling banyak dalam koloni. Lebah pekerja juga berasal dari sel telur yang dibuahi. Ovariumnya tidak berkembang sempurna sehingga tidak dapat bertelur. Lebah pekerja bertanggungjawab kesejahteraan koloni. Kecuali tugas reproduksi, semua pekerjaan pada koloni lebah madu sepenuhnya dilakukan oleh lebah pekerja.
Tugas lebah pekerja sesuai dengan perkembangan umur. Dari mulai menetas sampai umur tiga hari sebagai petugas kebersihan. Umur 3 – 12 hari bertugas sebagai perawat larva. Sejak hari ke 13-18 bertugas membuat dan memoles sisiran sarang. Dari umur 18 sampai 20 bertindak sebagai pengawal dan menjaga kesegaran udara di dalam sarang. Mulai hari ke-20 sampai datangnya kematian lebah bertugas mengumpulkan nektar, polen, propolis dan air. Dimasa tuanya lebah pekerja berperan sebagai pemandu bagi lebah muda untuk mencari lokasi pengumpulan nektar, polen, propolis dan air (Rusfidra,2003)

Lebah Madu Sedang Mencari Makanan
Add comment Mei 27, 2009
Lebah Madu untuk Penyerbukan Tanaman
oleh : Ahmad Sanusi Nasution
E-mail/fb: sanusi_eneste@yahoo.com
Lebah bukan satu-satunya serangga yang bertugas memperlancar penyerbukan bunga. Namun ia merupakan serangga satu-satunya, yang dalam menjalankan tugasnya, tidak menimbulkan akibat samping yang merugikan tanaman. Berbeda dengan kupu-kupu misalnya, tak ada yang menyangkal bahwa kupu-kupu yang mengisap madu itu mampu membantu menempelkan serbuk sari pada kepala putik sebuah bunga, dan itu akan mempermudah proses pembentukan buah. Tapi kupu-kupu menuntut balas jasa yang kadang kelewat mahal. Ratusan butir telurnya yang menempel pada daun, akan menetas menjadi ulat yang rakus mengunyah daun tanaman. Tanaman bukannya untung tapi malah buntung dalam arti sebenarnya (Tim Redaksi Trubus,1993). Begitu juga dengan semut yang terkenal sebagai pengumpul madu, namun semut sering membuat sarang pada bagian tanaman misalnya bersarang pada daun, sehingga daunnya menjadi terlipat. Hal yang sama juga pada beberapa jenis burung yang mempunyai paruh runcing dan cakar yang tajam, sering kali paruhnya yang runcing dan cakar yang tajam ini mengoyak kelopak bunga,membuat tangkai bunga tak sanggup menahan beban. Lebah madu jauh dari sifat merusak seperti yang disebutkan itu. Ia sama sekali bukan hama tanaman, tapi malah membantu menaikkan produksi. Lebah merupakan serangga penyerbuk (polinator) tanaman yang paling penting di alam dibandingkan angin, air, dan serangga lainnya. Banyak peneliti mengungkapkan bahwa terdapat kenaikan produksi jika sejumlah koloni lebah diletakkan di sekitar lokasi tanaman. Produksi apel meningkat sebesar 30-60%, jeruk 300-400%, dan anggur 60-100%. Terdapat simbiosis mutualisme antara lebah dan bunga tanaman. Lebah mendapatkan nektar dan polen dari bunga, sedangkan bunga dibantu penyerbukannya oleh lebah (Rusfidra dan Liferdi). Kenaikan produksi akibat penyerbukan lebah disuatu areal perkebunan paling sedikit 15%, bahkan ada yang bisa 70%. Angka yang luar biasa. Menurut catatan Tim Trubus (1993), dulu di Bogor, pernah dicoba penggembalaan lebah madi di kebun mentimun. Ternyata hasil mentimun per hektar menjadi 19,5 ton, padahal tanpa bantuan lebah hanya 12 ton. Menurut Sumoprastowo dan Suprapto (1993) Kenaikan produksi dengan bantuan penyerbukan oleh lebah mencapai; kebun kapas 25%, kebun buah-buahan 25-50%, kebun bunga matahari 50-60%, kebun mentimun 62,5%. Lebah madu tidak menuntut macam-macam, jika dalam peternakan ia hanya butuh kandang berupa stup (kotak). Soal makanan mereka akan mencari sendiri, dan pemilik dipersilakan memeras sendiri madu yang berhasil dikumpulkan para lebah pekerja. Diantara jenis serangga yang ada, lebah madu dianggap sebagai serangga penyerbuk yang paling penting. Anggapan dasar yang dijadikan dalam hal ini adalah, pertama, lebah madu dapat melakukan penyerbukan paling efisien; kedua, populasi lebah madu dalam koloni mudah diatur baik jumlah maupun waktu untuk keperluan penyerbukan tersebut. Sangat efisiennya lebah madu dalam menyerbukkan bunga tanaman disebabkan badan serangga tersebut dilengkapi dengan organ semacam rambut atau bulu-bulu yang tumbuh lebat baik pada badan maupun kakinya sehingga dapat mengangkut tepung sari dalam jumlah besar serta selanjutnya memindahkan tepung sari ke kepala putik dalam jumlah cukup. Aktivitas lebah tersebut dilakukan secara tidak sengaja pada saat pencarian nektar dan tepung sari sebagai pakan untuk koloninya, bagian kaki lebah madu yang penuh rambut tersebut disebut poolen basket (Ashari,2004). Lebah memiliki organ khusus untuk mengambil nektar, yang disebut probosis. Lebah memiliki probosis, bentuknya seperti belalai pada gajah. Probosis memiliki kemampuan mengisap cairan nektar pada bunga. Aktivitas terbang lebah mengumpulkan nektar dan polen berlangsung sejak pagi sampai sore hari. Pollen atau tepung sari bunga diperoleh dari bunga yang dihasilkan oleh bunga sebagai sel-sel kelamin jantan pada tumbuhan. Pollen diperlukan oleh lebah madu terutama sebagai sumber protein dan lemak, dan sedikit karbohidrat dan mineral. Menurut Hasanuddin (2003), Lebah madu mempunyai alat dan cara khas untuk mengumpulkan dan membawa pollen dari bagian bunga, yaitu dengan menggunakan mulut, lidah dan hampir semua bagian-bagian tubuh untuk memanen butir-butir pollen yang ukurannya sangat kecil (0.01-0,1 mm) dan menggunakan sebuah keranjang khusus yang disebut pollen basket di kaki belakang untuk membawa pollen dalam bentuk pelet ke sarang. Lebih lanjut Ashari (2004) mengatakan beberapa faktor yang harus dipertimbangakan dalam menggunakan lebah madu untuk tujuan membantu penyerbukan tanaman, diantaranya jumlah lebah per stup (strength of colony), potensi lebah (inspection of hive strength), jumlah stup lebah (number of bee hives), ketersediaan stup (availability of bee hives), dan penempatan stup (timing of the introduction of hives).
2 comments Mei 5, 2009
PENGAWASAN PIUTANG
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Oleh: Ahmad Sanusi Nst
Menurut Mukhtar (1999:40) bahwa: ”Pengawasan adalah proses pemberian pengaruh terhadap suatu aktivitas suatu objek, makhluk hidup atau sistem. Pengawasan dapat membantu perusahaan dalam mengontrol kegiatan perusahaan dan merupakan suatu tujuan dari sistem informasi akuntansi. Akuntansi membantu mencapai tujuan dengan mendesain sistem pengawasan yang efektif dan mengaudit sistem untuk meyakinkan tercapainya tujuan dengan efektif.”
Pengawasan yaitu : suatu tindakan agar pelaksanaan kegiatan sesuai dengan yang direncanakan (Tunggal,1995:5).
Dapat disimpulkan bahwa fungsi pengawasan yaitu membandingkan kejadian dengan perencanaan dan mengambil tindakan perbaikan untuk rencana masa depan. Dari pengertian pengawasan dan piutang, dapat diambil kesimpulan pengawasan piutang adalah proses manajemen untuk melihat apakan penjualan kredit telah dapat ditagih seluruhnya dan tidak melewati waktu tempo yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Jika hal ini tidak terjadi, maka akan diadakan serangkaian perbaikan guna menunjang pengawasan tersebut.
Pengawasan berfungsi untuk mengupayakan setiap kegiatan yang dilakukan sesuai dengan perencanaan. Dalam pelaksanaan pengawasan harus efisien dan mempertimbangkan cost benefit ratio artinya biaya pengawasan harus lebih rendah dari hasil pengawasan. Pengawasan dapat dilakukan sebelum, sedang dan/atau sesudah suatu kegiatan dilaksanakan. Pengawasan mensyaratkan umpan maju, yaitu bahwa tujuan, rencana, kebijaksanaan dan standar telah ditetapkan dan dikomunikasikan kepada para manajer yang bertanggung jawab terhadap pencapaian tujuan.
Dengan demikian pengawasan yang efektif tergantung pada perencanaan awal. Pengawasan juga didasarkan atas konsep umpan balik (feedback) yang menilai pelaksanaan dan mengusulkan tindakan koreksi untuk menjamin pencapaian tujuan. Dalam hal tertentu, pengawasan juga mengakibatkan perubahan dalam rencana tujuan awal, atau dalam pembentukan rencana baru.
Menurut Rustam (2003:
Ada dua metode yang paling umum dipergunakan dalam mengawasi piutang.
Kedua metode pengawasan tersebut adalah :
-
-
Periode Panagihan Rata-rata.
-
Periode penagihan rata-rata (Average collection period) mengukur perputaran piutang, yang dihitung dalam dua tahap yaitu :
-
Penjualan tahunan dibagi dengan 360 untuk menentukan penjualan rata-rata harian.
-
Total piutang dibagi dengan penjualan rata-rata harian untuk memperoleh jumlah hari dimana penjualan terikat pada piutang.
Jumlah hari yang diperoleh dari tahap kedua ini merupakan periode penagihan rata-rata karena merupakan lamanya waktu rata-rata bagi perusahaan harus menunggu menerima pembayaran setelah terjadinya penjualan.
b. Daftar umur piutang (aging schedule).
Daftar umur piutang adalah suatu daftar mengenai saldo-saldo piutang pada buku tambahan piutang pada suatu tanggal tertentu. Daftar ini memberikan saldopiutang setiap pelanggan dan dibagi dalam kelompok umur yang berbeda. Istilahkelompok umur di sini merupakan periode waktu dimana piutang terjadi sejak waktu penjualan.
Dari daftar ini dapat diketahui keadaan komposisi piutang perusahaan secara umum dan juga secara individu. Daftar ini juga dapat memperoleh langganan yang lambat dalam pembayaran. Dengan demikian perusahaan harus menyelidikinya untuk memastikan bahwa syarat-syarat kredit yang telah ditetapkan dapat berjalan dengan baik, demikian halnya juga dengan usaha penagihan.
1 comment April 15, 2009