KEBIJAKAN PEMBERIAN KREDIT

Oleh : Ahmad Sanusi
E-mail: sanusi_eneste@yahoo.com

Piutang timbul dari penjualan barang atau jasa secara kredit.Dalam sebuah entitas perusahaan,tidak tertagihnya piutang merupakan salah satu faktor penyebab kerugian perusahaan,jadi Untuk menghindari kerugian yang diakibatkan karena tidak tertagihnya piutang, maka perlu kiranya pimpinan perusahaan membuat kebijakan dalam pemberian kredit kepada langganan. Kebijaksanaan penjualan kredit biasanya mempertimbangkan hal-hal berikut ini :
a. Standar pemilihan pelangganan Dalam memutuskan untuk menyetujui permintaan atau penambahan kredit para langganan, perusahaan perlu mempertimbangkan kemauan dari kemampuan para pelanggannya untuk membayar. Oleh karena itu, perusahaan harus merencanakan pemilihan pelanggan. Untuk menilai resiko kredit seorang pelanggan, maka perusahaan dapat melakukan penilaian 5 C dari calon pelanggannya, yaitu :
1. Karakter, adalah adanya suatu sifat yang menunjukkan bahwa debitur akan secara jujur melaksanakan kewajibannya. Kewajiban ini berupa pembayaran kembali atas utangnya, sesuai dengan perjanjian atau transaksi yang telah dilakukannya.
2.Kemampuan, merupakan penilaian subjektif atas kemampuan membayar dari prestasi bisnin langganan tersebut di masa lalu yang didukung oleh hasil penelitian langsung pada pabarik atau took disamping melihat metode usaha yang digunakan.
3.Modal, diukur dari posisi keuangan perusahaan sebagaimana dapat dilihat dari analisis rasio keuangan, dengan penekanan khusus pada nilai modal perusahaan yang berwujud.
4.Jaminan, dicerminkan oleh aktiva dari langganan yang diikatkan atau dijadikan jaminan bagi keamanan kredit yang diberikan kepada langganan. Secara umum jaminan terhadap piutang dapat terbagi duat yaitu jaminan fisik dan non fisik. Jaminan fisik berarti jaminan berbentuk barang seperti tanah, rumah, surat-surat berharga dan sebagainya. Jaminan non fisik berbentuk jaminan keyakinan tentang prospek dan kekuatan keuangan serta sifat yang dapat dipertanggungjawabkan. Jaminan non fisik dapat berupa jaminan orang.
5. Kondisi perekonomian, menunjukkan pengaruh dari trend ekonomi pada umumnya terhadap perusahaan yang bersangkutan atau perkembangan khusus dalam suatu bidang ekonomi tertentu yang mungkin mempunyai efek terhadap kemampuan langganan untuk memenuhi kewajibannya. Informasi tentang faktor-faktor tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber lainnya :
1. Para memasok (supplier) lain yang memberikan kredit kepada pelanggan tersebut dan bersedia untuk bertukar informasi.
2. Bank-bank komersial dimana para pelanggan berhubungan. Walaupun bank tidak dapat memberikan data tentang jumlah simpanan dan pinjaman para nasabahnya, akan tetapi informasi umum dapat diperoleh, misalnya rekening korang pelanggan.
3. Pengalaman perusahaan sendiri mengenai kebiasaan pembayaran pelanggan, yang dapat dilihat dari catatan pembayaran pelanggan tersebut.
4. Lingkungan pengusaha yang mengenal perusahaan pelanggan itu.
5. Sumber informasi yang lain adalah biro pelaporan kredit. Disamping penilaian lima-C, dalam memilih pelanggan dapat diterapkan analisis diskriminan.
Dalam analisis ini pertama-tama ditentukan faktor-faktor penting yang dapat membedakan baik buruknya seorang pelanggan. Faktor-faktor tersebut dapat berupa : current ratio, quick ratio, debt to assets, inventory turnover, profit margin, dan rasio lainnya. Dari faktor-faktor tersebut dipilih beberapa faktor utama yang dipakai sebagai variabel.
a) Batas kredit yang diberikan. Pemberian kredit harus dibatasi sampai batas kemampuan membayar para pelanggan. Untuk menentukan batas kredit dapat digunakan rasio probabilitas kerugian atas penjualan kredit kepada pelanggan.
b) Syarat-syarat Penjualan Kredit. Syarat-syarat kredit terdiri dari : periode kredit, periode potongan tunai dan tarif potongan tunai. Periode kredit adalah periode waktu antara tanggal terjadi penjualan kredit dan tanggal pelunasan kredit. Periode potongan tunai adalah periode waktu antara terjadinya penjualan kredit dan tanggal hilannya kesempatan potongan tunai, Tarif potongan merupakan potongan atas harga pembelian yang akan diperoleh pembeli jika pelunasan dilakukan dalam periode potongan tunai.
c) Kebijaksanaan Penagihan. Proses penagihan memang mahal, baik dari sudut biaya uang yang nyata maupun hilangnya hubungan baik. Tetapi tetap diperlukan adanya ketegasan penagihan dan memperkecil kerugian langsung yang timbul karena tidak tertagihnya piutang.
Kebijaksanaan penagihan berhubungan dengan prosedur penagihan terhadap piutang yang telah jatuh tempo atau melewati periode kredit. Untuk menggambarkan pengaruh dari usaha penagihan, kebijaksanaan penagihan dapat dibagi atas aktif dan pasif. Kebijaksanaan penagihan disebut aktif jika suatu prosedur penagihan diikuti dengan tegas.
Kebijaksanaan penagihan yang aktif mempunyai pengaruh yang positif dan negatif. Pengaruh dari kebijaksanaan yang aktif adalah penurunan piutang tak tertagih. Kemudian, periode penagihan rata-rata juga dapat diturunkan. Disamping pengaruh positif, kebijaksanaan yang aktif juga mempunyai pengaruh yang negatif yaitu naiknya biaya penagihan. Pengaruh yang lain adalah penurunan dalam volume penjualan. Hal ini disebabkan sebagian langganan tidak suka ditekan dalam hal penagihan, dan juga dapat berpindah ke perusahaan lain. Akibat dari kebijaksanaan penagihan yang positif adalah sebaliknya.
Perusahaan harus mempunyai prosedur dalam penagihan piutang yang telah jatuh tempo. Banyak prosedur penagihan yang dapat dipergunakan. Usaha penagihan pertama harus dilakukan dengan sopan, dan jika kemudian piutang masih tidak tertagih usaha yang tegas dapat diterapkan.
Usaha penagihan dapat berupa : penagihan melalui surat, telepon, mendatangi langsung, penagihan melalui upaya hukum, atau menggunakan tukang tagih professional. Kebijaksanaan penagihan dapat diterapkan sebagai berikut : misalnya setelah 20 hari piutang yang jatuh tempo tidak dilunasi, maka perusahaan menulis surat atau menghubungi dengan telepon. Jika setelah 60 hari piutang juga belum dilunasi, perusahaan dapat mengutus pegawai penagih atau salesman mengunjungi pelanggann yang menunda pelunasan. Jika sesudah 90 hari belum juga ada pembayaran, maka penyelesaiannya dilakukan melalui jalur hukum. Apabila pelanggan tidak mampu lagi untuk membayar, maka usaha penagihan dihentikan dan diadakan penghapusan piutang tak tertagih. Metode yang digunakan adalah metode penyisihan piutang ragu-ragu agar informasi pada neraca lebih lazim dan tidak menyesatkan.

2 thoughts on “KEBIJAKAN PEMBERIAN KREDIT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s